Jumat, 25 November 2011

Budaya Politik


MODUL
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
UNTUK SMA KELAS XI





MENGANALISIS BUDAYA POLITIK DI INDONESIA






DISUSUN OLEH:
SULISTINI, S.Pd.
NIP. 19720228 200701 2 010







SMA NEGERI I TANJUNGSARI
JL. BARON KM.12 KEMIRI TANJUNGSARI GUNUNGKIDUL  KODE POS 55881
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunianya sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan modul ini, sebab hanya oleh karena perkenanNya modul ini bisa terselesaikan.
Modul ini disusun mengingat keterbatasan siswa-siswa kelas XI untuk dapat memperoleh sumber belajar PKN di perpustakaan sekolah yang jumlah buku sumbernya sangat terbatas.
Tujuan penyusunan modul ini adalah membantu para siswa SMA untuk mencapai tujuan pembelajaran PKN khususnya pada standat kompetensi “Menganalisis Budaya Politik di Indonesia”.
Modul ini mencakup 4 kompetensi dasar yakni
No
Kode Modul
Kompetensi Dasar
1
2

3

4
A.1
A.2

A.3

A.4
Mendeskripsikan pengertian Budaya Politik
Menganalisistipe-tipe budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Indonesia
Mendeskripsikan pentingnya sosialisasi pengembangan budaya politik
Menampilkan peran serta budaya politik partisipan

Harapan penyusun modul ini dapat bermanfaat, walaupun modul ini disusun dalam segala keterbatasan penyusun. Penyusun menyadari bahwa modul ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penyusun mengharap kritik dan masukan dari para pembaca guna perbaikan modul ini.
Selamat belajar

                                                                                                Tanjungsari, Maret 2010
                                                                                                Penyusun,


                                                                                                Sulistini, S.Pd.











PETA KEDUDUKAN MODUL
MENGANALISIS BUDAYA POLITIK DI INDONESIA


 


A.1
MENDESKRIPSIKAN PENGERTIAN BUDAYA POLITIK


 


A.2
MENGANALISIS TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK DI INDONESIA


 


A.3
MENDESKRIPSIKAN PENTINGNYA SOSIALISASI BUDAYA POLITIK


A.4
MENAMPILKAN PERAN SERTA BUDAYA POLITIK PARTISIPAN



GLOSARIUM

Afektif                        : berkaitan dengan sikap, perasaan, atau ikatan emosional.
Evaluative       : berkaitan dengan penilaian seseorang terhadap sesuatu hal
Induktrinasi     : proses sepihak untuk memaksa pihak lain menerima nilai dan norma yang dianggab benar oleh penguasa
Kognitf           : berkaitan dengan pengetahuandan keyakinan seseorang
Orientasi          : peninjauan untuk menentukan sikap yang tepat dan benar
Parokhial         : tetbatas pada satu wilayah dan lingkup yang sempit
Patronage        : interaksi timbale balik dengan mempertukarkan sumber daya yang   dimiliki
Sosialisaasi      : upaya memasyarakatkan suatu yang baru

















BAB I
PENDAHULUAN
A.    DESKRIPSI
Modul ini berisi tentang materi Standar Kompetensi “ Menganalisi budaya Politik di Indonesia”. Setelah mempelajari modul ini Anda akan memperoleh informasi sebagai bahan untuk dapat memahami tentang budaya politik di Indonesia.
Untuk dapat mempelajari modul ini, Anda dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas dalam bentuk menyelesaikan tugas mandiri secara individu maupun kelompok.
Pelajarilah modul ini dengan tekun dan teliti sebab di akhir setiap materi Anda akan diberi tugas-tugas yang harus Anda kerjakan. Penyusun yakin bahwa Anda akan dapat menyelesaikannya dengan baik.
Selamat Belajar semoga berhasil!

B.PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1.      Keberhasilan mempelajari modul ini tergantung dari kedisiplinsn dan ketekunan Andda dalam belajar
2.      Belajar dengan modul dapat dilaksanakan secara mandiri atau kelompok, baik di kelas maupun di luar kelas.
3.      Langkah-langkah yang perlu anda ikuti adalah:
a.       Baca dan pahami benar tujuan yang ada pada modul ini. Perhatikan materi pokok dan uraian materinya
b.      Bila dalam mempelajari modul ini mengalami kesulitan, catatlah hal yang sulit tersebut kemudian diskusikan dengan temanmu atau tanyakan pada guru,
c.       Bila memungkinkan, bacalah buku sumber lain yang relevan dengan materi yang sedang kita pelajari ini sebagai bahan pengayaan.
d.      Setelah anda merasa memahami materi ini, kerjakan tugas-tugas yang terdapat dalam modul ini, jawaban ditulis terpisah dari modul ini.
e.       Periksakan hasil pekerjaan anda pada guru. Bila jawaban belum benar, pelajari nsekali lagi materi ini, bila semua kegiatan telah selesai anda akan mengikuti tes di akhir modul ini yang diselenggarakan oleh guru.






BAB II
PEMELAJARAN











MODUL A.1
MENDESKRIPSIKAN PENGERTIAN BUDAYA POLITIK














MODUL A.1
MENDESKRIPSIKAN PENGERTIAN BUDAYA POLITIK

Standar Kompetensi                       :

Menganalisis  Budaya Politik di Indonesia

Kompetensi Dasar :
Mendeskripsikan pengertian budaya politik
Indikator                    :
1.       Mendeskripsikan pengertian budaya politik
2.       Mengidentifikasi ciri-ciri budaya politik
3.       Menjelaskan factor penyebab berkembangnya budaya pollitik di lingkup daerah
4.       Mengidentifikasi perkembangan budaya politik
5.       Menyimpulkan budaya politik yang berkembang di masyarakat

Materi Pokok             :
Hubungan internasional
1.       Pengertian budaya politik
2.       Ciri-ciri budaya politik
3.       Faktor penyebab berkembangnya budaya politik di suatu daerah
4.       Budaya politik yang berkembang di suatu daerah

Alokasi Waktu           :
2 jam pelajaran (2 x 45 menit)



























MODUL A.1
MENDESKRIPSIKAN PENGERTIAN BUDAYA POLITIK


A.     TUJUAN BELAJAR SISWA
Setelah siswa mempelajari modul ini diharapkan dapat mendeskripsikan pengertian, ciri, faktor penyebab berkembangnya budaya politik di daerah.


B.     KEGIATAN
1.      BELAJAR PENDAHULUAN

Kita sering mendengar istilah budaya. Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yakni dari kata “buddayah” yang merupakan bentuk jamak dari kata budi dan daya. Budi artinya akal, pikiran, daya berarti kemampuan, kekuatan. Jadi, berdasar asal katanya budaya berarti hasil dari kemampuan akal dan pikiran manusia. Hasil pikiran manusia dapat berupa benda dan non benda yang berupa nilai-nilai, pola perilaku,  norma,dsb, Hasil pikiran manusia itu dapat menjadi budaya jika sudah berulang-ulang dilakukan oleh masyarakat. Hampir semua segi kehidupan manusia menghasilkan suatu badaya, demikian pula dalam kehidupan masyarakat di sebuah Negara. Hubungan individu dalam sebuah Negara dengan pemerintahan Negara yang bersangkutan juga melahirkan perilaku-perilaku yang membentuk pola yang berulang-ulang dilakukan sehingga membentuk budaya, yang sering disebut dengan budaya politik. Apa budaya politik itu, apa cirri, apa macam, dan apa factor yang menyebabkan perkenbangannya, berikut kita akan membahasnya.


2.      PENGERTIAN BUDAYA POLITIK

Banyak ahli yang memberikan difinisi mengenai budaya politik dan tidak ada pengertian yang seragam, tetapi dari pendapat para ahli tersebut terdapat unsure-unsur yang sama. Berikut pendapat para ahli tantang budaya politik, yakni :
1.      Almond dan Verba ( dalam buku The Civic Culture )
Budaya politik adalah suatu sikap / orientasi warga negara  terhadap sistem politik dan aneka ragam  bagiannya, serta sikap terhadap peranan warga negara di dalam sistem itu.
2.      Larry Diamond
Budaya politik adalah suatu keyakinan, sikap, nilai, ide, sentimen dan evaluasi masyarakat tentang sistem politik nasionalnya serta peran dari masing-masing individu dalam sistem itu.
3.      Samuel Beer
Nilai-nilai keyakinan dan sikap-sikap emosi tentang bagaimana pemerintahan seharusnya dilaksanakan dan tentang apa yang harus dilakukan oleh pemerintah.
4.      Rusadi Sumintapura
Pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap  kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik.
Berdasar kutipan tersebut dapat diketahui bahwa dalam pengertian budaya politik terdapat unsur-unsur yang sama yakni bahwa dalam budaya politik terdapat pola sikap dan orientasi warga Negara terhadap negaranya. Konsep budaya politik lebih menekankan pada perilaku non aktual yaitu orientasi, sikap, nilai, dan kepercayaan.
1.      Budaya politik berkaitan erat dengan sistem politik, artinya membicarakan tentang budaya politik tidak lain adalah juga berbicara tentang sistem politik suatu negara yang meliputi struktur (supra dan infrastruktur politik) dan fungsinya.
2.      Budaya politik merupakan cerminan perilaku / sikap warganegara atau masyarakat secara massal, bukan gambaran perilaku per individu.

3. CIRI-CIRI BUDAYA POLITIK
Dari berbagai pendapat para ahli kita dapat mencari dan menemukan cirri-ciri budaya politik. Apakah ciri – ciri budaya politik itu ? Ciri – ciri budaya politik dapat diidentifikasi meliputi bahasan tentang :
1.     Masalah legitimasi.
2.      Pengaturan kekuasaan.
3.      Proses pembuatan kebijakan.
4.      Kegiatan partai politik.
5.      Perilaku aparat negara.
6.      Gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah.
4. FAKTOR PENYEBAB PERKEMBANGAN POLITIK DI SUATU DAERAH
Bagaimana sikap dan orientasi warga Negara terhadap negaranya sangat dipengaruhi oleh bagaimana orientasi politik warga Negara yang bersangkutan. Ada 2 tingkatan orientasi politik, yaitu di tingkatan masyarakat dan individu. Orientasi masyarakat secara keseluruhan tidak lepas dari orientasi individu. Komponen tersebut meliputi tiga bentuk orientasi, yaitu :

1.        Kognitif
Yaitu pengetahuan atau pemahaman dan keyakinan individu tentang sistem politik dan atributnya.

2.        Afektif
Yaitu berkaitan dengan perasaan atau ikatan emosi yang dimiliki individu terhadap sistem politik.

3.        Evaluatif
Yaitu berkaitan dengan kapasitas individu dalam memberikan penilaian moral terhadap sistem politik yang sedang berjalan dan bagaimana peran individu didalamnya.

Dalam kondisi nyata, ketiga komponen orientasi tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kemampuan seseorang dalam menilai sistem politiknya akan dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki sebelumnya. Perilaku politik seseorang juga ditentukan dari ketiga orientasi tersebut. Apakah seseorang akan berperan aktif dalam sistem politiknya atau sebaliknya, apakah seseorang berperilaku politik yang bersifat demokratis atau otoriter.

Seperti apakah wujud budaya politik itu ? Wujud Budaya Politik setidaknya dapat diklasifikikasi dalam 3 bentuk yaitu :
1.        Sistem politik : peraturan,ide,gagasan,nilai,norma, adat-istiadat (bersifat   abstrak)
2.        Aktivitas : tindakan-tindakan dlm kegiatan politik tata kerja Pemerintah,   Pres, DPRD sidang, demo, pemilu, kampanye, dll
3.        Benda-benda/alat buatan manusia untuk aktivitas :  gambar parpol, kartu pemilih, bilik suara pamflet, selebaran, atribut parpol, kaos, dll
Bagaimanakan kita mengetahui orientasi politik seseorang atau masyarakat? Orientasi politik dapat dibuka secara sistematis jika kita memperhatikan hal-hal berikut :
1.     Pengetahuan apa yang dimiliki seseorang tentang negara dan sistem politiknya dalam pengertian umum.
2.     Bagaimana pemahaman yang dimiliki tentang arus pengokohan kebijaksanaan.
3.     Bagaimana perasan pribadinya sebagai anggota sistem politik tersebut.
4.     Bagaimana penilaianya terhadap kemampuan norma-norma partisipasi atau penampilan apa yang diketahui dan dipergunakannya dalam membuat penilaian politik atau dalam menyampaikan pendapatnya.

C.    EVALUASI
TUGAS
Berdasar pengertian budaya politik di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut :
1.       Unsur-unsur apa yang ada pada difinisi budaya politik di atas?
2.       Menurut Anda, apa persamaan dan perbedaanya? Jelaskan!
3.       Setelah selesai, kumpulkan pekerjaan Anda pada guru!

SOAL TEST FORMATIF
1.      Jelaskan pengertian budaya politik menurut bahasa anda sendiri!
2.      Sebutkan cirri-ciri budaya politik!
3.      Faktor apa saja yang mempengaruhi budaya politik warga Negara, Jelaskan!
4.      Jelaskan komponen orientasi warga Negara terhadap system politik!
5.      Mengapa budaya politik yang berkembang di masing-masing daerah tidak sama, jelaskan!






MODUL A.2




MENDESKRIPSIKAN TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK YANG BERKEMBANG DALAM MASYARAKAT INDONESIA

















MODUL A.2
MENDESKRIPSIKAN TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK YANG BERKEMBANG DALAM MASYARAKAT INDONESIA

Standar Kompetensi                       :

Menganalisis  Budaya Politik di Indonesia
Kompetensi Dasar :
Menganalisis tipe-tipe budaya politik yang berkembang dalam masyarakat di Indonesia
Indikator                    :
4.       Mendeskripsikan tipe-tipe budaya politik di Indonesia
5.       Mengidentifikasi tipe budaya politik yang berkembang di Indonesia
6.       Menganalisis dampak perkembangan tipe budaya politik sesuai dengan perkembangan system politik yang berlaku
Materi Pokok             :
1.      Tipe-tipe budaya politik
2.      Perkembangan budaya politik
Alokasi Waktu           :
2 jam pelajaran (2 x 45 menit)
































MODUL A.2
TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK DI INDONESIA



A.     TUJUAN BELAJAR SISWA
Setelah siswa mempelajari modul ini diharapkan dapat menganalisis tipe-tipe budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Indonesia.

B.     KEGIATAN BELAJAR
1.      BELAJAR PENDAHULUAN
Budaya politik yang berkembang dalam suatu masyarakat tidak sama sebab karakteristik masyarakat, tingkat pendidikan, letak wilayah tempat tinggal, mata pencaharian masyarakat juga beragam. Perbedaan itulah yang menyebabkan berkembangnya beragam tipe budaya politik di masyarakat. Apalagi jika kita bicara kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk maka dalam hal budaya politik pun akan majemuk pula. Berikut ini kita akan membahas tentang apa saja tipe budaya politik yang berkembang di masyarakat Indonesia.

2.      TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK
Berdasarkan sikap dan nilai yang dimiliki seseorang, orientasi politik warga Negara dibedakan menjadi tiga, yakni :
1.      Budaya politik parochial, yang cirinya :
a.       Tidak memiliki orientasi atau pandangan sama sekali, baik sikap (afektif), pengetahuan ( kognitif) maupun penilaian (evaluatif)
b.      Masyarakat bersikap acuh tak acuh terhadap obyek politik, tetapi tetap peduli terhadap nilai-nilai primordial seperti adat istiadat, etnis dan agama.
c.       Obyek politik yang paling utama adalah pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik ,contohnya pemilihan   Kepala Desa, Pilkada, Pemilu DPR/DPD/DPRD dan Pilpres
2.      Budaya politik subyek, yang cirinya :
a.       Memiliki orientasi terhadap output atau pelaksanaan kebijakan publik yang sangat tinggi, tetapi orientasi terhadap input dan diri sendiri sebagai aktor politik sangat rendah.
b.      Peran politik masyarakat bersifat pasif
c.       Masyarakat menyadari otoritas pemerintah, sehingga hanya melahirkan kepatuhan dan ketaatan tanpa disertai sikap kritis
3.      Budaya politik partisipan, yang cirinya :
a.       Masyarakat memiki orientasi terhadap seluruh obyek politik, baik input maupun output, dan terhadap diri sendiri sebagai aktor politik
b.      Memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa dirinya sebagai aktor politik  mampu mempengaruhi kehidupan politik bangsa dan negaranya
c.       Berperan aktif dalam proses politik tetapi juga tunduk pada hukum dan kewenangan pemerintah
    Dalam  kenyataannya tidak satupun negara yang memiliki budaya politik murni    partisipan, parochial atau subyek, tetapi merupakan variasi dari ketiganya

3.      BUDAYA POLITIK YANG BERKEMBANG DI INDONESIA

            Ada beragam pandangan mengenai budaya politik yang berkembang di Indonesia. Berikut kita akan memahami berbagai pandangan tersebut.
Clifford Geertz, seorang antropolog dari Amerika Serikat, membagi budaya politik yang berkembang dalam masyarakat di Indonesia menjadi tiga, yaitu budaya politik abangan ditunjukkan oleh golongan petani kecil, santri merupakan pemeluk agama Islam yang taat dan priyayi yaitu golongan yang terdiri dari kaum terpelajar dan golongan atas penduduk kota terutama para pegawai.
Sedang Herbert Feith, seorang Indonesianis dari Australia menyatakan bahwa selain budaya politik nasional, di Indonesia berkembang sub budaya politik yang dominan yaitu budaya politik aristocrat jawa dan wiraswastawan Islam dibanding sub budaya politik yang lain. Senada dengan itu, Afan Gaffar, menyatakan bahwa pola budaya politik Indonesia sangat didominasi kelompok etnis yang dominan, yaitu Jawa. Budaya etnis Jawa sangat mewarnai sikap, perilaku, dan orientasi politik kalangan elit politik Indonesia. Menurutnya, ada tiga ciri dominan yang terdapat dalam budaya politik Indonesia, yaitu :

1.      Hirarki yang ketat/tegas
Hirarki adalah pembedaan berdasar stratifikasi social, yang membedakan antara wong gede dengan wong cilik. Sebagian besar masyarakat di Indonesia, terutama masyarakat Jawa pada dasarnya bersifat hirarkis. Hal ini tampak dari adanya pemilahan tegas antara penguasa dan rakyat biasa. Penguasa dicitrakan sebagai kelompok yang pemurah, baik hati dan pelindung, sedangkan rakyat berada pada posisi harus patuh, tunduk, setia dan taat pada penguasa.

2.      Kecenderungan Patronage
Pola hubungan patronage merupakan pola budaya politik yang menonjol di Indonesia, yaitu pola hubungan patron-client yang saling berinteraksi dengan mempertukarkan sumber daya yang dimiliki masing-masing. Sumber daya yang dimiliki oleh Patron biasanya berupa kekuasaan, kedudukan atau jabatan, perlindungan, perhatian dan materi; sedangkan Client memiliki sumber daya berupa tenaga, dukungan dan kesetiaan. Pola hubungan ini oleh Yahya Muhaimin disebut sebagai pola Bapakisme (bapak-anak). Bapak (patron) sebagai tumpuan dan sumber pemenuhan kebutuhan material bahkan spiritual serta emosional anak, sebaliknya para anak (client) dijadikan tulang punggung  yang setia dan penuh pengabdian.

3.      Kecenderungan Neo-patrimonialistik
Salah satu kecenderungan budaya politik di Indonesia adalah adanya kecenderungan munculnya budaya yang bersifat neo-patrimonialistik, artinya meskipun memiliki atribut yang bersifat modern dan rasional,misalnya birokrasi, tetapi perilaku negara masih memperlihatkan tradisi dan budaya politik yang berkarakter patrimonial yaitu berada dibawah kontrol langsung pimpinan negara. Menurut Afan Gafar, Negara patrimonialistik memiliki sejumlah karakter, antara lain :
a.       Kecenderungan mempertukarkan sumber daya yang dimiliki seorang penguasa kepada teman-temannya.
b.      Kebijakan lebih bersifat particular
c.       Rule of law bersifat sekunder bila disbanding kekuasaan penguasa
d.      Penguasa politik seringkali mengaburkan antara kepentingan umum dan kepentingan public.

Nazaruddin Sjamsudin menyatakan bahwa budaya politik diatas bukan merupakan budaya politik secara keseluruhan tetapi hanya merupakan sub-sub budaya politik yang berkembang di daerah. Untuk melihat budaya politik di suatu Negara harus dilihat cirri khas yang paling menonjol yang mewarnai hampir setiap segi kehidupan masyarakat. Indonesia, menurut Nazaruddin  memiliki masyarakat yang terdiri dari beraneka macam perbedaan, tetapi dari perbedaan itu tampak cirri kuat yakni adanya toleransi dan tenggang rasa antara masyarakat yang beragam tersebut sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena cirri tersebut yang menonjol pada masyarakat Indonesia maka nazaruddin menyatakan bahwa budaya politik Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika.

C.     EVALUASI
TUGAS
1.      Menurut Anda, apakah ketiga tipe budaya politik  yang telah kita pelajari tersebut ada pada masyarakat Indonesia? Jawablah dengan bukti-bukti yang ada di masyarakat!
2.      Berdasar kenyataan yang ada di sekitarmu, budaya politik apa yang paling menonjol, mengapa demikian?
3.      Budaya politik mana yang paling baik diktumbuhkembangkan untuk dapat menuju pada masyarakat yang demokratis, jelaskan!

TES FORMATIF
1.      Sebutkan 3 tipe budaya politik, bedakan ketiganya!
2.      Apakah yang dimaksud budaya politik Bhinneka Tunggal Ika, Jelaskan!
3.      Jelaskan 3 ciri budaya poitik Indonesia menurut Afan Gaffar!
4.      Buktikan bahwa budaya politik Indonesia masih menunjukkan kecenderungan neo patrimonialistik!
5.      Mengapa budaya politik partisipan dikatakan sebagai budaya politik yang paling unggul, jelaskan!







MODUL A.3





PENTINGNYA SOSIALISASI PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK



















MODUL A.3
PENTINGNYA SOSIALISASI PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK

Standar Kompetensi                       :

Menganalisis  Budaya Politik di Indonesia

Kompetensi Dasar :
Mendeskripsikan pentingnya sosialisasi pengembangan budaya politik
Indikator                    :
1.      Mendeskripsikan makna sosialisasi politik
   2.   Menguraikan mekanisme sosialisasi pengembangan budaya politik
3.   Mengidentifikasi fungsi parpol
Materi Pokok             :
1.      Makna sosialisasi kesadaran politik
2.      Mekanisme sosialisasi pengembangan politik
3.      Fungsi parpol
Alokasi Waktu           :
4  jam pelajaran (4 x 45 menit






























MODUL A.3
SOSIALISASI PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK



A.     TUJUAN BELAJAR SISWA
Setelah siswa mempelajari modul ini diharapkan dapat mendeskripsikan pentingnya sosialisasi pengembangan budaya politik di Indonesia
B.     KEGIATAN BELAJAR
1.      BELAJAR PENDAHULUAN
Segala hal yang baru yang belum dikenal oleh masyarakat perlu untuk disampaikan kepada semua yang membutuhkan. Sesuatu yang bersifat positif, membangun kehidupan masyarakat untuk menjadi lebih baik perlu terus menerus dikembangkan. Suatu budaya politik pun perlu untuk terus dimasyarakatkan agar dapat terus dipelihara dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Pada bab ini kita akan mempelajari tentang pentingnya sosialisasi budaya politik.

2.      PENGERTIAN SOSIALISASI POLITIK
Banyak ahli menyampaikan pengertian sosialisasi politik. Beberapa diantaranya adalah :
-        David Easton dan Denis: sosialisasi politik adalah proses pengembangan  dimana seseorang memperoleh orientasi politik
-        Kenneth P. Langton: dalam arti luas sosialisasi politik adalah bagaimana masyarakat mentransmisikan budaya politik secara turun temurun (from generation to generation)
-        Gabriel A. Almond: sosialisasi politik menunjuk pada proses pembentukan sikap dan pola tingkah laku politik, juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk mewariskan patokan dan keyakinan politik kepada generasi selanjutnya.
    
            Bila kita cermati, berbagai pengertian sosialisasi politik hampir semuanya sama, yakni menunjuk pada proses untuk memasyarakatkan nilai-nilai atau budaya politik ke dalam suatu masyarakat. Jadi hakekat sosialisasi politik adalah suatu proses pendidikan, penanaman nilai-nilai dan pembentukan budaya politik dalam masyarakat yang berlangsung sepanjang hidup.
Menurut Ramlan Surbakti (1992), ditinjau dari segi penyampaian pesan, sosialisasi politik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
-        Pendidikan politik, merupakan proses dialogis  antara pemberi dan penerima pesan, biasanya dilakukan melalui kegiatan kursus, iskusi, latihan kepemimpinan atau keikutsertaan dalam berbagai pertemuan
-        Indoktrinasi politik, merupakan proses sepihak yang terjadi ketika penguasa memobilisasi dan memanipulasi warga masyarakat untuk menerima nilai, norma dan simbol yang dianggap baik oleh penguasa. Indoktrinasi politik biasanya dilakukan melalui forum pengarahan yang penuh paksaan psikologis dan latihan yang penuh disiplin.



3.      PENTINGNYA SOSIALISASI POLITIK DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK
      Dalam upaya pengembangan budaya politik, sosialisasi politik menempati posisi yang penting dan strategis bagi sebuah bangsa, mengingat bahwa dalam sosialisasi itu terdapat proses pewarisan nilai-nilai dan  budaya politik. Budaya politik yang akan diwariskan adalah yang sesuai dengan sistem politik yang dicita-citakan oleh suatu bangsa.
    Alasan pentingnya sosialisasi politik bagi suatu bangsa menurut Almond yaitu
a.       dapat membentuk dan mewariskan kebudayaan politik suatu bangsa
b.      dapat memelihara budaya politik suatu bangsa dengan jalan meneruskan dari generasi yang lebih tua kepada generasi berikutnya
c.       dapat mengubah budaya politik suatu bangsa

           Bagi bangsa Indonesia, sosialisasi politik diarahkan untuk memelihara dan mewariskan sistem politik yang dicita-citakan  yaitu sistem politik demokrasi Pancasila yang dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Nilai yang terkandung dalam sistem politik demokrasi Pancasila diantaranya adalah :
-        Religius, bukan sekuler
-        Pluralisme (Bhineka Tunggal Ika)
-        Wawasan kebangsaan (wawasan nusantara)
-        Kekeluargaan
-        Gotong royong
-        Musyawarah
-        Cinta kemerdekaan
-        Nasionalisme (cinta tanah air)
-        Cinta persatuan dan kesatuan
-        Semangat solidaritas


4.      BENTUK DAN SARANA SOSIALISASI POLITIK
Sosialisasi politik dapat dapat dilakukan melalui dua bentuk yaitu :
1.      Langsung, yakni jika seseorang menerima atau mempelajari nilai, informasi, sikap, pandangan dan keyakinan mengenai politik secara eksplisit.
2.      Tidak langsung, jika seseorang pertama kali memperoleh atau mewarisi hal-hal yang bersifat nonpolitik, tetapi hal-hal itu kemudian akan mempengaruhi sikap-sikapnya di bidang politik. Misalnya seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang demokratis, maka setelah dewasa akan mudah menghargai orang lain atau menerima perbedaan pendapat.
Sedangkan sarana atau agen sosialisasi politik, menurut  Afan Gaffar adalah :
-        Keluarga,
Keluarga merupakan lembaga pertama yang dijumpai oleh individu dimana seseorang belajar tentang nilai-nilai termasuk didalamnya pembentukan nilai-nilai politik. Anak belajar patuh pada aturan, hormat pada yang lebih tua, belajar membuat keputusan bersama,dsb. Pengalaman di keluarga mempengaruhi kompetensi individu dalam kehidupan politik.
-        Sekolah
Peran sekolah dalam sosialisasi budaya politik antara lain member pengetahuan tentang dunia politik, membangun kesadaran pada siswa tentang perlunya hidup bernegara, pentingnya rasa cinta tanah air,dsb.
-        Kelompok bermain atau bergaul
Dalam kelompok pergaulan seseorang akan melakukan tindakan sama seperti yang dilakukan oleh kelompoknya artinya setiap orang dalam kelompok akan menyesuaikan tindakannya dengan teman dalm kelompoknya.
-        Lingkungan kerja
Lingkungan kerja dapat menjadi sarana sosialisasi politik yang dapat memberikan pengalaman berkesan bagi para anggotanya. Anggota dalam kelompok akan menggunakan organisasi sebagai acuan bertindak dalam kehidupan kelompok, dan akan memberikan pengalaman berorganisasi bagi anggotanya.
-        Media massa
Media massa baik surat kabar, majalah, radio, televisi, dan internet memegang peranan penting dalam membentuk sikap dan keyakinan politik. Dengan sarana itu masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan informasi tentang politik dengan cepat.
-        Kontak politik secara langsung
Adalah pengalaman nyata yang dialami oleh individu dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan kekuasaan, misalnya pengalaman menyontreng dalam pemilu,    pengalaman ditilang oleh polisi, melihat kecurangan dalam pemilu, melihat demonstrasi yang anarkis,dsb. Betapapun baik pengetahuan seseorang akan politik akan melahirkan budaya yang kurang baik apabila mengalami perlakuan buruk dalam kehidupan nyata.

    Proses sosialisasi politik yang dialami seseorang dalam kenyataannya tidak hanya melalui satu sarana saja, berbagai sarana tersebut biasanya akan dirasakan. Keluarga adalah sarana sosialisasi politik  pertama yang dirasakan oleh seseorang pada awal kehidupannya. Ketika anak mulai masuk usia sekolah, maka ia akan menerima sosialisasi politik melalui lembaga sekolah dan selanjutnya diikuti melalui kelompok bermain atau bergaul. Semakin dewasa umur seseorang, semakin beragam atau bertambah sarana sosialisasi politik yang diperolehnya yaitu lingkungan tempat dia bekerja, media massa ataupun kontak politik secara langsung.

C.     EVALUASI
TUGAS
Tulislah berbagai pengalaman politik nyata yang pernah anda alami melalui berbagai sarana sosialisasi politik, kemudian carilah sarana politik mana yang paling dominan berpengaruh terhadap orientasi politik seseorang, beri penjelasan secukupnya. Setelah selesai, kumpulkan pekerjaan anda pada guru.
TES FORMATIF
1.      Jelaskan pengertian sosialisasi politik!
2.      Sebutkan pentingnya sosialisasi politik!
3.      Sebutkan agen sosialisasi politik!
4.      Jelaskan pengalaman politik nyata yang diperoleh seorang dalam lingkup pergaulannya!
5.      Sebutkan peran media masa sebagai agen sosialisasi politik di Indonesia!


































MODUL A.4




MENAMPILKAN PERAN SERTA BUDAYA POLITIK PARTISIPAN


















MODUL A.4
MENAMPILKAN PERAN SERTA BUDAYA POLITIK PARTISIPAN

 

Standar  Kompetensi                    :

Menganalisis  Budaya Politik di Indonesia
Kompetensi Dasar :
Menampilkan peran serta  budaya politik partisipan
Indikator                    :
1.      Mendeskripsikan bentuk-bentuk budaya politik beserta contohnya
2.      Menunjukkan budaya politik yang sesuai dan bertentangan dengan semangat pembangunan politik bangsa
3.      Memberi contoh budaya politik partisipan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara.
4.      Mendemonstrasikan budaya politik partisipan
Materi Pokok             :
1.      Bentuk-bentuk budaya politik partisipan
2.      Budaya politik yang sesuai dan bertentangan dengan pembangunan politik bangsa
3.      Contoh-contoh budaya politik partisipan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
Alokasi Waktu           :
4  jam pelajaran (4 x 45 menit)



























MODUL A.4
MENAMPILKAN PERAN SERTA BUDAYA POLITIK PARTISIPAN


A.     TUJUAN BELAJAR SISWA
Setelah siswa mempelajari modul ini diharapkan dapat mendeskripsikan pentingnya sosialisasi pengembangan budaya politik di Indonesia

B.     KEGIATAN BELAJAR
1.      BELAJAR PENDAHULUAN

Dalam sebuah masyarakat yang demokratis seperti halnya Indonesia, budaya politik partisipanlah yang paling tepat dianut oleh sebagian besar masyarakat. Budaya politik partisipan dianggap budaya politik paling unggul sebab dalam budaya politik itu rakyatlah yang berdaulat, sehingga rakyat sama kuat atau lebih kuat dari pemerintah. Tidak ada yang berhak memerintah rakyat kecuali sudah diserahi oleh rakyat.. Oleh sebab itu setiap kebijakan politik yang dibuat juga harus melibatkan rakyat. Rakyat harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik. Budaya politik seperti itulah yang disebut dengan budaya politik partisipan

2.      MENAMPILKAN PERAN SERTA BUDAYA POLITIK PARTISIPAN

    Budaya politik partisipan merupakan budaya yang akan mendukung terbentuknya sebuah sistem politik yang demokratis dan stabil. Karena itu menampilkan peran serta budaya politik partisipan sangatlah penting karena akan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan kehidupan demokrasi secara nyata, tidak hanya sekadar wacana. Menampilkan peran serta budaya politik partisipan berarti setiap warga negara menyadari dan  meyakini  bahwa mereka memiliki kompetensi untuk terlibat dalam proses politik. Disisi lain, pemerintah juga harus memberikan keleluasaan, menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung bagi terlibatnya peran serta warga negara dalam kehidupan politik.
    Dalam tataran praksis, partisipasi warga negara sebagai realisasi budaya politik partisipan  bisa diwujudkan dalam beberapa bentuk.  Menurut  Cholisin (1998) terdapat empat bentuk :
1.      Peran aktif, yaitu memberikan masukan, mengkritisi kebijakan publik
2.      Peran pasif, yaitu mematuhi kebijakan pemerintah
3.      Peran positif, yaitu meminta kepada pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka mewujudkan kesejahteraan
4.      Peran negatif, yaitu menolak segala bentuk intervensi   pemerintah berkaitan dengan hal-hal pribadi (privasi)
Budaya politik partisipan disebut juga budaya politik demokrasi dimana setiap nilai, sikap, keyakinan, dan norma yang dianut mendukung terwujudnya partisipasi.Menurut Ramlan Surbakti cirri-ciri partisipasi politik warga Negara antara lain :
1.      Berupa perilaku/kegiatan luar yang bisa diamati
2.      Kegiatan itu diarahkan untuk mempengaruhi pemerintah selaku pembuat kebijakan
3.      Kegiatan yang berhasil dan gagal mempengaruhi kebijakan termasuk dalam konsep partisipasi politik
4.      Dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung/ melalui perantara.
5.      Dapat dilakukan melalui prosedur wajar(konvensiona) dan tidak berupa kekerasan(non violence) maupun melalui prosedur tidak wajar( non konvensional ) dan berupa kekerasan( violence )

Sedang menurut S. Yudohusodo menyatakan bahwa untuk menerapkan budaya politik partisipatif ada hal yang harus dilakukan antara lain :
1.    Mengembangkan budaya keterbukaan.
2.    Mengembangkan budaya mengajukan pendapat dan berargumentasisecara santun.
3.    Mengembangkan budaya pengambilan keputusan secara terbuka dan demokratis.
4.    Membiasakan proses rekruitmen kader secara transparan berdasar kualifikasi yang tolok    ukurnya diketahui secara luas.

C.   EVALUASI
TUGAS
1.    Carilah artikel di media massa yang menunjukan perilaku politik di masyarakat yang tidak sesuai dengan budaya politik partisipatif!
2.    Dari artikel tersebut setujukah anda apabila ada pendapat bahwa krisis rasa malu, ketidakjujuran, kekerasan, dan politik uang telah mewarnai budaya politik kita!
3.    Menurut anda apa yang harus dilakukan oleh para penguasa agar tetap dapat mematuhi aturan yang berlaku ketika berpolitik dan bukan malah melanggarnya?

TES FORMATIF
1.      Apa yang disebut denganm budaya politik partisipan?
2.      Mengapa budaya politik partisipan disebut juga budaya politik demokrasi?
3.      Berilah masing-masing 3 contoh cara partisipaasi politik konvensional dan non konvensional!
4.      Hal apa saja yang harus dikembangkan untuk dapat menerapkan budaya politik partisipatif?
5.      Berilah 2 contoh penerapan budaya politik partisipatif di lingkup sekolah dan Negara!











HALAMAN PENGESAHAN
MODUL PEMBELAJARAN
BUDAYA POLITIK DI INDONESIA
KELAS XI SEMESTER II
































Daftar Pustaka



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar